Ketua Gen Z Aceh Minta Polemik Bendera Bulan Bintang Tak Diperpanjang

Banda Aceh – Ketua Gen Z Aceh, Muyashir Asriyan Haikal, meminta seluruh pihak untuk tidak memperpanjang persoalan terkait insiden pengibaran bendera Bintang Bulan di Aceh.
Permintaan tersebut disampaikan menyikapi pernyataan Bambang Soesatyo (Bamsoet) terkait insiden tersebut. Muyashir berharap semua pihak dapat menyikapinya dengan kepala dingin dan mengedepankan kepentingan perdamaian Aceh.
“Yang sudah terjadi, biarlah menjadi catatan. Jangan kembali membuka luka lama dan jangan memancing amarah masyarakat Aceh yang selama ini telah hidup dalam suasana damai,” ujar Muyashir kepada AcehPolitika, Minggu (16/8/2026).
Menurutnya, perdamaian Aceh yang telah terbangun selama bertahun-tahun merupakan modal penting yang harus dijaga bersama. Karena itu, satu peristiwa tidak semestinya menjadi alasan untuk memunculkan kembali ketegangan di tengah masyarakat.
“Aceh sudah aman. Perdamaian yang telah dibangun bertahun-tahun harus kita jaga bersama, bukan justru dipertaruhkan karena satu peristiwa,” katanya.
Muyashir juga meminta aparat penegak hukum dan seluruh pemangku kepentingan mengedepankan ketenangan, kebijaksanaan serta pendekatan yang tidak menimbulkan keresahan baru.
Ia berharap persoalan tersebut tidak berkembang menjadi polemik berkepanjangan yang berpotensi mengganggu suasana damai di Aceh.
“Jangan sampai persoalan yang seharusnya dapat diselesaikan dengan kepala dingin justru menjadi pemantik ketegangan baru. Mari kita jaga Aceh tetap damai, jangan perkeruh suasana dan jangan bangkitkan kembali amarah masyarakat,” tegasnya.
Evaluasi Harapan Masyarakat Aceh
Lebih jauh, Muyashir menilai setiap peristiwa seharusnya menjadi momentum bagi semua pihak untuk melakukan evaluasi dan introspeksi.
Ia mengajak pemerintah, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk melihat lebih jauh berbagai persoalan yang masih menjadi harapan masyarakat Aceh.
“Dari peristiwa itu hendaknya kita semua juga mengoreksi diri. Mungkin ada kekecewaan pada masyarakat yang belum terjawab. Mari kita kaji secara mendalam apa saja harapan masyarakat Aceh yang selama ini belum terpenuhi,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai janji yang pernah disampaikan kepada masyarakat Aceh juga perlu menjadi bahan evaluasi bersama, sehingga persoalan yang masih tersisa dapat diselesaikan melalui dialog dan kebersamaan.
“Apa saja janji yang telah diberikan namun belum ditepati, mari kita dudukkan bersama dan kita selesaikan bersama. Jangan sampai kekecewaan masyarakat berkembang menjadi persoalan baru,” pungkas Muyashir.
Ia kembali menegaskan bahwa menjaga perdamaian merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat Aceh.



